Tempat pembuangan akhir sampah BatuLayanG behind th scn >> Berada di ujung jalan Kebangkitan Nasional, berawal dari sebuah liputan yang dulu luput dari perhatianku diantara kesibukan kulih kala bergelut di lembaga pers mahasiswa tepatnya mimbar untan, redaktur yg juga temanku yang kebetulan dianggap "necis" oleh rekan2, kata lain dari istilah galak untuk seorang perempuan, mgkn aq tak perlu menyebutkan namanya disini, meski begitu ia jg baik, perhatian, friendlesslah,...
Saat itu isu yg mencuat ttg Proyek Kerjasama Pemerintah kota Pontianak PT. Gikoko Kogyo Indonesia Proyek CDM Clean Development Mechanism proyek mekanisme pembangunan bersih implementasi protocol Kyoto pengurangan emisi gas rumah kaca melalui peningkatan pengelolaan persampahan dengan menggabungkan penangkapan dan pemusnahan landfill gas (LFG) dan pembangkit listrik propinsi kalbar Indonesia.Saat ia meliput ttg dampak2nya buat kultur warga setempat, dll-lah efectny, baik burukny, dsbny, aq yg merasa tertarik menawarkan diri utk turun meliput, tp sepanjang perjalanan peliputan, rpt sedaksi, diskusi terkait kebijakan kerjasama pemerintah, dll. tak ada satupun yg serius aq jalani, begitulah kesanny, alasannya sangat klasik, tak puny cukup wkt,...
Alhasil aq dianggap tak komit dgn air liurq sendiri, fuih,... sory fren asli,...
Dan Liputan ttp berjalan, diskusi panas berlangsung, dan beritapun cetak. dan tragisya semua tanpa keterlibatan aq,sama skali. Merasa bersalah? jelas, tp itu sudah berlangsung,.... kemenangan buat rekan2q,......
Beruntung sedia blog buat hasil karya ini, meski telat, ia tetap cetak, walau sebatas dunia maya, atau setidaknya di kompas images, tepatny rubrik citizen ftgrfr!
Adalah Alan Saputra 12 th. terpaka putus sekolah demi membantu ibu agar dapat tetap mengepul, meski sempat merasa bangku sekolah selama 2 tahun Alan mengaku belum bisa membaca, meski begitu ia msh merasa beruntung, setidaknya adik perempuannya yang kini tengah menelusuri bangku SD tingkat tiga berencana menyelesaikan sekolahnya, tutur Alan singkat. smoga!
MEuLaboH
Tempat pembuangan akhir sampah BatuLayanG behind th scn
Lintas Cerita

K E V I N C A R T E R "I am haunted by the vivid memories of killings & corpses & anger & pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners...I have gone to join Ken if I am that lucky."
Sudan, awal tahun 1993. Bencana kelaparan sedang melanda seantero negeri gurun pasir yang tandus itu. Suatu hari di tahun yang murung itu seorang bocah Sudan terjatuh di tengah jalan ketika sedang berjalan sendirian menuju posko pembagian makanan. Tubuhnya yang sudah begitu lemah, kurus kering tinggal kulit pembalut tulang, tak mampu lagi menahan rasa lapar dan ia pun jatuh tertunduk. Beberapa langkah di belakang si bocah ada seekor burung pemakan bangkai sedang mengamati, seolah menunggu calon santapannya benar-benar tergeletak mati. Seorang fotografer yang ditugaskan meliput kelaparan di negri itu menjepretkan kameranya ketika ia melihat pemandangan tragis itu dalam perjalanan tugasnya. Kevin Carter nama fotografer itu, akhirnya mendapat hadiah Pulitzer—bukan Piala Oscar memang—pada 23 Mei 1994 untuk kategori berita atas fotonya yang sangat menyentuh hati nurani siapa pun yang melihatnya.
Namun apa yang terjadi kemudian mengejutkan banyak orang dan menjadi bagian dari catatan sejarah hadiah Pulitzer. Pada Juli 1994, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan menghirup asap karbonmonoksida. di Johannesburg, Afrika Selatan. Rupanya selama itu sang fotografer telah mengalami penderitaan batin yang teramat dalam sebagaimana yang ditulisnya sendiri dalam suratnya sebelum ia bunuh diri. Di dekat mayatnya, terdapat secarik catatan yang berbunyi: “Saya depresi. Saya dihantui memori yang menakutkan tentang pembunuhan, bangkai, kemarahan, kesakitan, kelaparan atau luka yang dialami para anak-anak…”Dari cerita rekannya, ia pernah mengatakan bahwa dirinya merasa begitu berdosa karena telah meninggalkan bocah tersebut dan lebih mementingkan pekerjaan ketimbang tugas kemanusiaan. Ia kuatir burung itu benar-benar memakan si bocah yang naas itu. Dan dengan menerima hadiah penghargaan itu ia juga merasa bersalah karena menang atas penderitaan orang lain.
"I am haunted by the vivid memories of killings & corpses & anger & pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners...I have gone to join Ken if I am that lucky." KEVIN CARTER.
"TEARS IN HEAVEN"
Eric Clapton
Would you know my name
if I saw you in heaven?
Would it be the same
if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
'Cause I know I don't belong here in heaven...
Would you hold my hand
if I saw you in heaven?
Would you help me stand
if I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day
'Cause I know I just can't stay here in heaven...
Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please...begging please
Beyond the door there's peace I'm sure
And I know there'll be no more tears in heaven...
Would you know my name
if I saw you in heaven?
Would YOU be the same
if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
'Cause I know I don't belong here in heaven...